Menjelajah Bumi

Menuju Baitullah bersama Anak-anak

Assalamu’alaikum, cerita ini adalah salah satu pengingat bagi saya untuk bersyukur karena telah diberi kesempatan oleh ALLAH untuk melakukan Ibadah Umroh, menuju Baitullah bersama suami dan anak-anak. Beribadah dan menelusuri sejarah Islam di 2 Kota Suci, Mekah dan Madinah, serta berziarah ke Makam Rasulullah sungguh merupakan perjalanan yang membekas di hati. Sehingga akhirnya saya pun berniat membagi pengalaman ini terutama untuk keluarga yang juga berniat menjalankan ibadah Umroh bersama anak-anak. Semoga bermanfaat.


Persiapan Menuju Baitullah

Berawal dari sekitar 2 tahun lalu, ketika Ayahnya anak-anak tiba-tiba memberi kabar bahwa kantor tempatnya bekerja memberi kesempatan bagi para staff untuk berangkat Umroh. Pak suami pun langsung mendaftarkan kami berdua. Perasaan haru namun juga cemas mulai datang, karena kemungkinan besar kami akan meninggalkan anak-anak selama kurang lebih 10 hari. Saya segera mulai mempersiapkan berbagai skenario dan strategi, terutama terkait pengasuhan anak-anak di rumah. Bala bantuan pun berusaha didatangkan. Bude, sang asisten andalan yang dulu sempat mengasuh anak-anak pun segera dibujuk untuk datang kembali dari Magelang demi menemani anak-anak nanti.

Semakin dekat ke bulan keberangkatan menuju Baitullah, tak disangka-sangka kami mendapat tambahan rezeki karunia ALLAH. Akhirnya setelah berdiskusi internal, kami pun memutuskan untuk membawa serta anak-anak dalam perjalanan Umroh nanti. Alhamdulillah, betapa haru dan bahagianya kami.

Persiapan fisik dan perlengkapan keluarga, terutama untuk anak-anak, kami lakukan sejak 2-3 minggu sebelumnya. Karena kami akan berada dalam 9 hari perjalanan, maka aneka macam barang dari pakaian hingga mainan anak pun perlu ditata dengan baik agar semua merasa nyaman.

Daftar Barang Bawaan Ketika Umroh Bersama Anak

  • Perlengkapan Suami
    • Setelan baju koko dan celana sebanyak 7-8 buah
    • 2 set pakaian tidur
  • Perlengkapan Saya
    • Gamis 7 potong, termasuk gamis berwarna putih untuk umroh
    • 7 setelan kaos lengan panjang beserta legging atau celana untuk dikenakan di dalam gamis namun juga bisa dikenakan untuk tidur
    • Bergo panjang atau mukena untuk sehari-hari dan sholat
    • Skincare dan makeup (minimalis)
    • Tas kecil untuk perlengkapan pribadi yang selalu dibawa
  • Perlengkapan Anak
    • 12 set baju untuk masing-masing anak
    • Pampers untuk anak balita
    • Mainan anak, seperti lego, pensil warna, dan lainnya
  • Jaket, baju hangat, dan kaos kaki
  • Obat-obatan pribadi, seperti: obat influenza dan batuk untuk anak dan dewasa, obat maag, obat diare, aneka minyak (travel size), betadine, plester, koyo
  • Copy dokumen pribadi (contoh: passport)
  • Tumbler atau botol minum
  • Sandal harian
  • Kantong plastik
  • Tissue (kering dan basah)
  • Payung
  • Stroller minimalis (berhubung saat itu anak bungsu baru berusia 2 tahun)

Tak lupa saya menata semua keperluan di atas dengan membaginya ke dalam beberapa koper. Sehingga setiap koper akan berisikan semua keperluan anggota keluarga. Hal ini guna mengantisipasi insiden yang kadang terjadi seperti tas tertinggal atau terselip di kargo pesawat.

Di Pesawat

Perjalanan menuju Baitullah begitu mengesankan. Kepanikan muncul pada awal keberangkatan, karena Adik, anak bungsu yang berusia 2.5 tahun, mendadak demam menjelang pesawat take off. Dan sepanjang perjalanan menuju Jedah, Adik begitu rewel, sulit tidur nyenyak. Obat, makanan, dan minuman pun sulit masuk ke perutnya. Alhasil saya dan Adik cukup kelelahan karena tidak bisa mendapatkan istirahat yang berkualitas.

Untungnya di sisi lain, Abang (usia 5 tahun), mengetahui Bundanya sedang bersusah payah menghibur Adik, bersikap sangat kooperatif selama di pesawat. Berbekal 2 buah kantong LEGO sebagai teman bermain, Abang pun tampak tenang dan menikmati perjalanan jauh pertamanya.

Anak-anak ketika di pesawat untuk menuju Baitullah
Anak-anak ketika di pesawat

Tiba di Jeddah

Sesampainya di Jeddah, Alhamdulillah kondisi Adik mulai membaik. Ia sudah mau meminum air putih dan tampak lebih semangat. Ditambah lagi, yang membuat kami terkejut, ternyata orang-orang di sana sangat menyukai anak-anak kecil. Sejak menjejakkan kaki di area imigrasi, Abang dan Adik terus dihujani kebaikan orang-orang disana. Berkali-kali mereka diberi makanan, digendong, dan diusap kepalanya. MasyaAllah, kami menjadi sangat terharu dan menjadi lebih tenang.

Melanjutkan Perjalanan ke Madinah

Menuju Masjid Nabawi
Menuju Masjid Nabawi

Perjalanan kami lanjutkan dari Jedah ke Madinah dengan menggunakan Bis selama kurang lebih 5 jam. Sesampainya di Madinah, hari sudah malam, waktu Sholat Isya pun sudah tiba. Kami semua kelelahan. Setelah pembagian kunci kamar hotel, kami bergegas istirahat, meluruskan badan di kasur, terasa nyaman sekali.. Dan yang membuat kami semakin terheran-heran, setibanya di Madinah, Adik langsung menjadi super sehat dan ceria. Alhamdulillah, ternyata selalu begitu banyak kemudahan karunia ALLAH.. Malam pertama di Madinah, saya pun memutuskan istirahat di hotel bersama anak-anak. Sedangkan ayahnya anak-anak langsung menuju Masjid Nabawi untuk Sholat Isya dan Sholat malam.

Keesokan harinya, saya dan anak-anak mulai menjalankan Ibadah di Masjid Nabawi. Karena Hotel kami terletak kurang lebih 500 meter dari Masjid, Adik pun dibawa ke Masjid beserta dengan stroller yang kami sewa dari Jakarta. Dan karena membawa stroller, saya dan nak bungsu juga harus ikhlas untuk Sholat di halaman Masjid saja. Ya, kami memang sedikit kesulitan menemukan area penyimpanan atau penitipan stroller yang cukup aman di sekitar Masjid (dengan kata lain area yang tidak dibersihkan oleh petugas kebersihan ๐Ÿ˜‚). Sedangkan untuk meninggalkan stroller di Hotel dan menggendong Adik bolak balik menuju Masjid, rasanya saya belum bisa menyanggupinya ๐Ÿ˜‚. InsyaAllah, jika ada kesempatan untuk kembali ke tanah suci yang berikutnya, Adik sudah lebih siap secara fisik dan mental, sehingga kami bisa lebih sering masuk dan ikut beribadah di dalam Masjid.

Halaman Masjid Nabawi dengan payungnya yang cantik
Halaman Masjid Nabawi dengan payungnya yang cantik

Berziarah ke Makam Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam

Target dan niat kami di hari berikutnya adalah dapat berziarah ke Makam Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam (SAW), yakni Raudhah. Kami pun diajak Muthowif kami (pembimbing Umroh) untuk menuju Raudhah selepas Sholat Isya. Posisi pintu masuk menuju area Raudhah yang cukup jauh, ditambah menggendong si kecil dengan carrier-nya, cukup membuat saya tergopoh-gopoh kelelahan.

Setibanya di dalam Masjid, kami diminta antri menunggu beberapa saat berganti giliran. Nampak para petugas di sana sudah fasih mengelompokkan para peziarah, sehingga orang-orang yang berasal dari Asia biasanya tidak akan digabung dengan peziarah dari Eropa, Timur Tengah, dan Afrika yang bertubuh lebih tinggi dan besar. Hal ini sepertinya demi faktor keamanan dan ketertiban.

Ketika giliran kami memasuki area Makam Rasul tiba, saya dan nak bungsu ternyata harus cukup puas untuk bisa berhenti sejenak di pinggiran luar makam. Kami menyadari bahwa jika memaksakan terus ke dalam kondisinya akan cukup berat karena penuh dan berdesakan, ditambah lagi Adik sudah tertidur. Tetapi, bisa berdiri dan berdoa di atas sebagian karpet hijau itu pun rasanya sudah cukup membuat hati ini merasa campur aduk. Salallahu Ala Muhammad..Salallahu Alaihi Wassalam.. Ya ALLAH, karuniakanlah kesempatan kembali bagi kami untuk kembali ke Madinah dan berziarah ke Makam Rasul..

Kejadian Lucu untuk Dikenang

Ada sedikit kejadian lucu yang mungkin akan selalu teringat, dimana ketika kami beranjak meninggalkan area Raudhah yang padat, tak sengaja kantung tempat sandal kami terjatuh entah dimana. Sehingga kami pun terpaksa mengikhlaskannya dan berjalan tanpa alas kaki keluar Masjid. ๐Ÿ˜‚ Akhirnya pak suami pun memberikan sendalnya pada saya sambil kemudian berburu toko yang masih buka, mengingat hari sudah melewati tengah malam, untuk mencari gantinya.

Madinah begitu tenang, nyaman, seakan hasrat akan dunia tak lagi penting dibuatnya. Namun setelah 3 hari terlewati, kami kemudian harus melanjutkan perjalanan ke kota Mekah, dimana rangkaian Ibadah Umroh sesungguhnya akan dilakukan.

Meneruskan Perjalanan, Menuju Baitullah di Mekah

Perjalanan dari Madinah ke Mekah memakan waktu kurang lebih 6 jam. Dengan persiapan yang cukup dan lengkap dengan pakaian ihram, perjalanan pun dilakukan di waktu sore hari sehingga Alhamdulillah anak-anak bisa tertidur di bis dengan nyaman. Selama perjalanan menuju Baitullah, saya berusaha menahan diri untuk ikut turun beristirahat ataupun ke kamar kecil di rest area karena kondisinya yang kurang nyaman. Setelah hampir 6 jam perjalanan, kami akhirnya tiba di Mekah. Waktu menunjukkan pukul 10 malam setibanya di hotel. Kami pun dipersilakan untuk makan malam dan bergegas bersiap diri untuk melaksanakan Umroh pertama di tengah malam itu.

Menunaikan Umroh

Memulai Umroh pertama ini begitu mendebarkan, mengingat program Umroh yang kami ikuti ini adalah Umroh Akbar yang dibimbing oleh Syekh Ali Jaber dengan peserta hampir 500 orang. Kami harus mempersiapkan mental dan fisik agar tak tertinggal dari rombongan. Di sisi yang lain kami juga harus menyadari bahwa kami membawa serta Abang dan Adik yang sedang dalam kondisi mengantuk. Bersyukur mereka sempat tertidur di bis sepanjang perjalanan tadi.

Kami bersama rombongan pun mulai melangkah mengarah ke Masjidil Haram. Menuju Baitullah, Abang terlihat bersemangat di awal, sedangkan Adik mulai gelisah karena kelelahan dan tidak mau berada digendongan Abinya. Alhasil saya pun segera memindahkan Adik beserta carrier-nya ke saya, sambil harap-harap cemas membayangkan Tawaf mengelilingi Kabah dan Sai bersama batita seberat 12kg di dalam gendongan.

Memandang Kabah di Masjidil Haram
Memandang Kabah dari Roof Top Masjidil Haram

Alhamdulillah dengan rasa campur aduk antara haru dan cemas, Tawaf berhasil kami lakukan bersama rombongan besar ini. Dan tibalah saatnya untuk Sai antara bukit Safa dan Marwa yang lebih jauh perjalanannya. Kami pun terus berpesan kepada Muthowif kami untuk membantu mencarikan kursi Roda yang bisa kami sewa untuk membawa anak-anak. Jujur, saat itu saya kurang yakin Abang akan kuat berjalan kaki lagi berkilo-kilo meter di tengah malam itu ๐Ÿ™ˆ Walaupun kenyataannya lokasi Sai sangatlah nyaman karena berada di dalam Masjidil Haram yang sejuk di dalamnya.

Alhamdulillah, dengan keahlian Muthowif kami, kursi roda pun kami dapatkan dengan membayar sekitar 75 Riyal, anak-anak bisa dengan nyaman duduk di kursi Roda selama Sai. Di waktu Subuh, Sai selesai kami lakukan dan rangkaian ibadah Umroh pun tuntas dengan Tahalul, yakni memotong sedikit rambut. Saatnya kembali ke Hotel untuk beristirahat. Hari ini saya memutuskan untuk istirahat dan tidur di kamar hotel bersama anak-anak hingga menjelang waktu Ashar, sedang Abinya tetap berangkat ke Masjidil Haram untuk Sholat berjamaah.

Ibadah di Masjidil Haram

Hari ke-3 di Mekah lebih banyak diisi dengan sholat berjamaah ke Masjidil Haram. Jarak dari Hotel kami di Mekkah, menuju Masjidil Haram adalah sekitar 800 meter. Cukup menguras energi terutama bagi anak-anak untuk berjalan kaki sejauh itu. Sempat punggung saya terkilir karena menggendong Adik selama perjalanan bolak balik menuju Masjid. Namun Alhamdulillah disembuhkan ALLAH dengan istirahat dan sedikit olesan minyak hangat dan koyo di punggung.

Di sepanjang perjalanan antara Hotel dan Masjidil Haram, kami cukup senang dan sempat mencicipi sedikit nuansa wisata di kota ini layaknya turis. Di kanan kiri jalan banyak halaman yang dihinggapi burung-burung. Abang dan Adik pun sempat bermain berlarian memberi makan burung. Selain itu, makanan dan toko oleh-oleh khas Mekah pun bertebaran, cukup membuat sibuk kami menelisik isi warung dan restoran yang terlewati. Bahkan di depan jalan masuk Masjidil Haram pintu King Abdul Azis terdapat sebuah mall (Bin Dawood) yang berlimpah hiburan ringan seperti toko kue, coklat, dan mainan anak-anak.

Anak-anak memberi makan burung di sebuah halaman dekat Masjidil Haram
Anak-anak memberi makan burung di sebuah halaman dekat Masjidil Haram

Melakukan Umroh yang Kedua

Hari berlalu dan saatnya melaksanakan ibadah Umroh kedua, fisik pun kembali kami persiapkan. Muthowif kami menjelaskan bahwa kami akan mengambil Miqot atau berniat untuk Umroh di pagi hari sekitar pukul 10 di Masjid Bir Ali. Perjalanan menuju Masjid tersebut sekitar 20 menit ditempuh dengan bis.

Selepas Miqot, kami segera menuju Masjidil Haram. Panas terik Mekah di siang hari memang cukup menguras energi dan mulai membuat kami terutama Abang kelelahan. Betapa terharunya kami yang berulang kali mendapat tawaran dari teman-teman satu rombongan tour untuk menggendong Abang. Namun dengan menetapkan hati dan sedikit memaksakan diri, saya berhasil membuat Abang tetap melangkah menyelesaikan Tawaf-nya. Tujuh putaran pun akhirnya kami lalui dan ketika menemukan dispenser air zamzam di dekat pintu menuju lokasi Sa’i, Abang pun kembali sumringah dan semangat. MasyaAllah!

Selanjutnya masih ada Sai yang harus kami lewati, dan kali ini Abi pun mengajukan tantangan untuk Abang agar tidak menggunakan alat bantu seperti kursi Roda ketika melaksanakannya. Alhamdulillah Abang pun ternyata sanggup menyelesaikannya dengan semangat. Mungkin sedikit perbedaan dengan Tawaf, lokasi Sai yang berada di dalam ruangan Masjidil Haram dan full AC membuat anak-anak lebih nyaman. Abang dengan semangatnya berlari-lari kecil dan bercanda dengan Adik yang digendong Abi. Terkadang beberapa teman rombongan yang kebanyakan para orangtua menggoda Abang dan menyemangatinya. Alhamdulillah Sai pun selesai ba’da sholat Ashar. Selepas Tahalul, selesailah rangkaian Umroh kedua kami, menandakan bahwa kami akan segera kembali ke tanah air. Perasaan haru terus menggelayuti.

Persiapan Pulang

Hari Jumat adalah hari persiapan untuk kepulangan kami ke tanah air. Rasanya baru saja kami menuju Baitullah, namun kini kami sudah harus kembali ke rumah. Sedikit perasaan sedih mulai mencuat karena kami rasanya mulai menikmati semua rutinitas ibadah di kota suci ini. Alhamdulillah, kami berkesempatan untuk menjalankan Tawaf Wada atau Tawaf perpisahan dan juga beribadah Sholat Jumat di Masjidil Haram. Selepas Sholat Jumat, kami pun diarahkan menuju Bis untuk berangkat ke Jedah dimana pesawat yang akan membawa kami kembali ke Indonesia berada.

Dan selesailah rangkaian perjalanan Ibadah Umroh kami bersama anak-anak. Alhamdulillah.. Tabarakallah.. betapa harunya perasaan ini. InsyaAllah kami dan semua yang berniat menjalankan Ibadah Umroh dan Haji segera dikaruniai kesempatan kembali ke tanah suci oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.

Tips Umroh Bersama Anak-Anak

  • Teruslah menyibukkan diri dengan berpikiran positif. Jangan mengeluh. Tetap fokus pada niat ibadah. Tetap yakin bahwa ALLAH akan memudahkan ibadah kita.
  • Jangan terlalu memaksakan diri dan anak-anak untuk senantiasa berangkat sholat berjamaah ke Masjid, terutama ketika badan sudah mulai kelelahan. Adakalanya, seperti ketika selesai ibadah Umroh pertama, saya dan anak-anak memilih untuk beribadah di kamar hotel sampai yakin bahwa tenaga kami sudah mulai pulih.
  • Ketika bepergian ke Masjid, bawalah botol minum selalu, dan utamakan untuk mengisinya dengan air Zamzam. Untuk anak-anak, siapkan snack, makanan anak, 1 set baju dan diapers (jika perlu), juga beberapa mainan kecil yang dapat menyibukkan mereka, mengingat akan banyak waktu menunggu ketika berada di dalam Masjid.
  • Ketika bepergian antar kota, siapkan juga tissue basah dan 1 buah botol berisi air bersih jika dibutuhkan untuk membersihkan diri di toilet-toilet rest area.
  • Bagi yang membawa stroller untuk ataupun kursi roda sendiri, sering-seringlah mencari informasi dimana tempat yang memungkinkan untuk meletakkan atau menitipkan stroller agar mudah ketika memasuki area Masjid. Kami bahkan baru mengetahui bahwa ada sebuah area atau rak tempat penitipan tas dan stroller di seberang pintu King Abdul Azis, di dekat area toilet. Dan tempat ini baru kami temukan tepat di hari terakhir kami berada di Mekah ๐Ÿ˜‚. Jangan lupa untuk serta membawa kunci gembok atau rantai untuk mengamankan barang-barang tersebut ketika dititipkan di tempat tersebut.
  • Ada baiknya mencuci kilat pakaian dalam atau baju yang akan dikenakan ulang di kamar Hotel di waktu luang. Terutama jika membawa pakaian yang terbatas. Cara ini biasanya kami terapkan untuk pakaian anak-anak yang lebih sering kotor, sehingga mereka tidak akan kekurangan pakaian bersih.
  • Terakhir, banyak-banyaklah berdoa, memohon agar kelak diberi kemudahan untuk kembali lagi ke Tanah Suci. Menuju Baitullah.

0 thoughts on “Menuju Baitullah bersama Anak-anak

  1. Mbaa MasyaaAllah… Aku minggu depan insyaaAllah mau umroh sama suami Dan anak 3 tahun… Ini YG lagi aku butuhin banget Infonya MasyaaAllah ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜, makaish mbaa smoga berkahhh selalu aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.