Negeri Para Bedebah - Tere Liye (via Google Play Book)
Book & Movie Review

Review Novel: Negeri Para Bedebah (Tere Liye)

Mungkin saya termasuk golongan orang yang telat karena baru mulai menikmati novel-novel Tere Liye ya. Nama beliau padahal sudah sangat sering berseliweran di media sosial. Saya bahkan gemar menikmati kutipan-kutipan pendek beliau yang sering di post di Instagram. Banyak yang betul dan mengena isinya. Setidaknya itu menurut saya. Maka awal mula saya berkenalan dengan novel Tere Liye pun melalui Google Play Books. Ketika saya sedang scroll aplikasi Instagram, nampaklah info bahwa Tere Liye membagikan salah satu novelnya dalam versi e-book secara bebas pada waktu terbatas. Tak mau kehilangan kesempatan, segera saya tambahkan buku “Negeri Para Bedebah” ke dalam Library, lalu mulai membacanya.

Negeri Para Bedebah – Tere Liye (via Google Play Book)

Sinopsis

“Orang-orang kehilangan dana pensiun, jaminan kesehatan, tabungan puluhan tahun, dan rencana pendidikan. Kita amat tahu, untuk orang-orang seperti kita, inilah teror sebenarnya.”

Novel “Negeri Para Bedebah” – Tere Liye

Dari judulnya sudah bisa ditebak sepertinya ya, ke mana arah cerita novel ini. Sarat dengan nuansa action, ekonomi, dan politik. Tere Liye memulai kisah Negeri Para Bedebah dengan menggambarkan sosok tokoh utamanya, Thomas, sebagai seorang eksekutif muda, sukses, cerdas, namun terbilang angkuh dan sombong.

Namun siapa sangka Thomas ternyata memiliki latar belakang yang cukup tragis sebelum akhirnya mengantarkan ia menjadi sesosok ekonom ternama. Wajahnya terpampang di berbagai media nasional hingga internasional. Thomas yang awalnya saya kira adalah sang bedebah, ternyata masih harus bertemu dengan banyak bedebah hebat lainnya ketika ia memutuskan untuk menyelesaikan kasus yang menimpa keluarganya. Sang paman hampir masuk hotel prodeo. karena terseret permasalahan pelik. Perusahaan yang dipimpinnya jatuh, merugi, dan nyaris bangkrut.

Adegan demi adegan kemudian menceritakan bagaimana Thomas dengan waktu kurang dari 2 hari harus membuat strategi menyelamatkan nama keluarganya. Berlari ke sana ke mari sambil memutar otak. Mendekati para petinggi pemerintahan, media, hingga pemangku keputusan lainnya untuk membentuk sebuah persepsi lain di masyarakat. Detik demi detik digambarkan dengan jelas dan runtun dalam novel ini.

Kilas Balik yang Menjelaskan Segalanya

Beberapa kisah disampaikan melalui potongan-potongan flashback. Menggambarkan masa kecil Thomas yang ternyata cukup penuh drama. Mengambil sudut pandang Thomas di usianya yang belum genap remaja namun harus mengalami trauma berat. Menyaksikan keluarga intinya hancur, tercerai berai.

Beberapa tokoh antagonis digambarkan sebagai sesuai kondisi yang ada di kebanyakan belahan dunia saat ini. Politikus yang korup, pemangku kekuasaan yang hanya memikirkan uang, hingga media yang bisa dengan mudah dibentuk dari satu sudut pandang.

Namun di sisi lain, novel ini juga menggambarkan, bahwa sosok Thomas pun bukan sepenuhnya seorang jagoan berhati suci nan mulia. Ia ternyata hanya seorang manusia yang juga berlumpur dosa. Tapi entah bagaimana, Tere Liye sukses membuat saya, salah satu pembaca novel ini, menjadi bersimpati pada sang tokoh utama.

Seperti Cerita Nyata yang Ada di Sekitar Kita

Tak lupa latar dan suasana cerita dalam novel ini juga sangat mencerminkan keadaan dunia masa kini. Dibuka dengan adegan Thomas yang hendak diwawancarai oleh salah seorang wartawan muda dari media terkemuka di kelas bisnis sebuah pesawat. Kesan angkuh seorang ekonom muda kelas atas tersampaikan dengan baik. Thomas selain itu juga dikesankan sebagai seorang anak muda dengan pergaulan luas di berbagai kalangan. Ia mengenal banyak orang dengan berbagai macam latar belakang.

Terselip juga sebuah adegan menarik layaknya film terkenal yang berjudul “Fight Club”. Di mana digambarkan beberapa orang yang bergabung dalam klub elit perkelahian bebas sedang menunggu waktu tarungnya. Tanpa melihat latar belakang masing-masing, semua bebas meluapkan emosi di atas ring.

Belum lagi episode sogok menyogok, serigala berbulu domba, kasarnya oknum-oknum petinggi pemerintahan digambarkan dengan lugas di cerita ini. Membuat otak pembaca serasa terhubung dengan keadaan nyata yang ada di sekitar saat ini. Wawasan bang Tere Liye memang sepertinya sangat luas, sehingga setiap detail cerita terilustrasikan dengan jelas.

Seri Selanjutnya dari Negeri Para Bedebah

Sayangnya, akhir novel tetap dibuat menggantung. Masih ada cerita-cerita yang belum terselesaikan sehingga saya pun dibuat penasaran dengan kelanjutannya. Sepertinya seri berikutnya: Negeri di Ujung tanduk dan Bedebah di Ujung Tanduk harus segera masuk ke dalam daftar untuk dibaca segera.

12 thoughts on “Review Novel: Negeri Para Bedebah (Tere Liye)

  1. sama kak, saya termasuk yg telat tau karya karya tere liye hiks. nice review kak. buku tentang kamu karya tere liye juga bagus kak. ceritain perempuan kuat yang namanya sri ningsih. saya baru menyelesaikannya beberapa minggu lalu, bagus sekali novelnya

  2. Keren ya kisah novelnya. Yang nulis ulasan ini juga gak kalah keren. Aku jadi penasaran pengen baca juga, soon masuk wishlist bacaanku lah. Makasih kak sharingnya…

  3. Aku gak nyangka kalau Negeri Para Bedebah ini buku pertama yang mengantarkan pada buku kedua dan ketiga alias trilogi. Aku pikir seperti buku “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” atau “Moga Bunda Disayang Allah”.
    Tapi memang buku Bang Tere secandu itu sih..
    Aku belum baca yang buku ini karena seneng sama seri, Bumi, Bulan, namun tersendat di Matahari.

    Kisah di “Negeri Para Bedebah” ini apakah mengingatkan kita kepada real lyfe?
    Benar-benar penuh perjuangan dan intrik untuk menggapai sebuah kesuksesan.

    1. Betul Mbak, ternyata ini ada sambung menyambungnya dengan “Negeri di Ujung Tanduk” dan Bedebah di Ujung Tanduk”. Begitu juga dengan “Pulang”, “Pergi”, tapi yang ini bisa dibaca terpisah kalau saya cek-cek dari referensi di luaran sana.
      Seru, gak nyangka kalau novelnya sungguh relate dengan keadaan real lyfe saat ini.

  4. Se kepengen itu untuk bisa merengkuh buku-bukunya bang tere liye, kutipannya aja banyak yg relate, apalagi baca ceritanya keseluruhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *