Daily Reminder

Yang Harus Dilakukan Ketika Target Tak Kunjung Tercapai

Deggg. Jantung saya berdebar begitu melihat jadwal ujian tahfidz di sekolah anak sulung yang sudah akan dimulai. Saya pun bergegas mengintip daftar nama pesertanya. Dan sesuai bayangan, nama anak sulung tidak ada di dalamnya. Huhuhu. Sedih sekali rasanya, karena sebenarnya anak sulung sudah hampir menyelesaikan target tahfidznya kali ini. Tinggal satu lagi surat yang perlu disetorkan kepada guru tahfidz-nya di sekolah. Namun ternyata kami terlambat.

Melihat sejenak ke belakang, saya mencoba untuk meyakini bahwa saya sudah cukup rajin mengingatkan anak sulung untuk selalu menambah hafalannya. Hanya ternyata fakta berkata lain, saya pun sadar bahwa saya yang salah. Entah mengapa masih saja ada target-target yang terlewat. Sepertinya saya kadang terlalu permisif dan sering mengiyakan permintaan anak sulung menunda tugas setoran hafalannya. Saat ia sedang terlihat lelah setelah seharian berkegiatan di sekolah contohnya. Atau di waktu lain, ketika sepupunya datang dan mengajaknya pergi. Di momen-momen tersebut, saya yang kurang teguh hati ini pun akhirnya sering membiarkan anak sulung untuk absen dari menghafal Quran.

Anak-Anak, Sang Peniru Ulung

Berarti ini karena kesalahan saya sebagai ibu mereka ya? Saya yang kurang memberi contoh baik pada anak-anak? Mungkin saya juga kurang rajin dalam menghafal. Alih-alih mengajak mereka murojaah (mengulang) bersama, mungkin saya lebih sering sibuk sendiri dengan urusan rumah. Memang peribahasa bahwa buah tak jatuh jauh dari pohonnya itu benar ya ternyata.

Aktivitas Anak (Foto: Alena Shekhovtsova – corelens)

Anak adalah peniru ulung. Apa yang dicontohkan oleh orang tua akan dengan mudah diduplikasi oleh anak-anak.

Dan saya yang memang masih menyimpan banyak sekali kelemahan ini pun nyatanya memiliki andil yang besar terhadap progress alias perkembangan anak-anak saya sendiri. Karena nyatanya kebiasaan mereka dibentuk dari apa yang kita perlihatkan atau contohkan pada mereka setiap hari. Jika orang tua hobi marah, bersuara keras, bahkan meledak-ledak, maka jangan heran jika anak-anak pun mudah tantrum. Dan sikap mereka belum tentu loh ditunjukkan langsung pada orang tuanya, alih-alih mereka bisa saja terlihat emosional saat berinteraksi di depan teman-temannya. Istilah lainnya, mereka melampiaskan perilaku buruknya pada orang lain di luar sana.

Baca Juga: Belajar Menerima Kekalahan

Tips Merubah Kebiasaan pada Diri Sendiri dan Anak

Saya pernah mendengar sebuah nasihat dari Ustadz Adi Hidayat. Jika ingin merubah perilaku anak menjadi lebih baik, maka orang tua harus merubah dahulu diri mereka sendiri. Memperbaiki diri agar kelak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak. Maka apa saja yang kira-kira harus dilakukan untuk merubah diri?

Memohon Pertolongan ALLAH Yang Mahakuasa

Tentu sebelum berusaha merubah perilaku anak, yang harus dilakukan adalah memohon pertolongan ALLAH Subhanahu wa Ta’ala agar diberi kemudahan melakukannya. Apalah daya manusia tanpa izin ALLAH. Diawali dengan banyak-banyak berdoa, semoga usaha dan niat kita pun mendapat ridho ALLAH.

Mulai Melatih Diri untuk Konsisten Mengulang Aktivitas yang Direncanakan

Konsisten sebenarnya adalah satu hal yang menurut saya sedikit menantang untuk diterapkan. Jujur, urusan blogging ini saja saya sendiri masih sering naik turun. Kadang semangat, kadang ya ala kadarnya saja. Padahal dari ilmu yang sering dibagikan para senior ataupun blogger-blogger kenamaan di luar sana, komitmen untuk konsisten menulis adalah salah satu kunci kesuksesan.

Begitu pula dengan teori bahwa manusia bisa membentuk kebiasaannya asalkan terus menerus melakukannya selama 21 hari. Teori ini pun kemudian disanggah oleh penelitian lain yang mengatakan bahwa butuh waktu 4 – 7 bulan untuk membiasakan diri konsisten melakukan sesuatu. Namun terlepas dari itu semua, nyatanya kita harus terus berusaha memotivasi diri sendiri dan anak. Tentu harapannya adalah tak lain agar anak bisa konsisten memperjuangkan hal-hal baik yang mereka senangi.

Terus Berlatih untuk Mencapai Target
Terus berlatih agar mencapai target (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Salah satu langkah untuk memulai kebiasaan adalah dengan membuat jadwal kegiatan terlebih dahulu. Semua yang sudah terprogram akan lebih mudah untuk diikuti dan diterapkan. Menambahkan rewards (imbalan) dan punishment (hukuman) untuk tiap-tiap poin yang disetujui atau tidak disetujui bisa membantu lebih baik dalam penerapannya.

Melatih Kedisiplinan dan Belajar Menghargai Waktu

Semua manusia terlahir dengan modal yang sama, yaitu waktu 24 jam dalam 1 hari. Tinggal bagaimana cara kita bisa memanfaatkan waktu dengan seefektif mungkin yang akan membedakan hasilnya. Jika kita memilih untuk lebih banyak leyeh-leyeh, maka jangan berharap bisa mendapatkan hal yang sama dengan mereka yang berjuang full seharian penuh. Setidaknya itu adalah satu hal yang selalu coba saya ingatkan untuk diri saya sendiri dan juga anak-anak.

Saat libur sekolah tiba misalnya. Penting untuk tetap mencarikan anak kegiatan yang bermanfaat agar waktunya tak habis hanya di depan TV atau gadget. Isi waktu dengan banyak aktivitas yang menambah skill dan keahlian. Hidup di zaman sekarang sungguh sangat berbeda. Miliaran manusia dari berbagai belahan dunia harus bersaing untuk meraih mimpi-mimpi mereka. Tanpa disiplin, maka kita akan mudah terbawa arus dan lupa pada tujuan atau mimpi besar kita.

Selalu Sediakan Waktu untuk Rehat Sejenak

Memiliki niat yang kuat atau ambisi terhadap sesuatu memang baik, tapi bukan berarti kita lantas memaksakan hal tersebut pada anak. Terlebih lagi jika anak sudah mulai lelah atau letih. Menyelipkan sedikit waktu untuk rehat dan hiburan biasanya membantu me-refresh atau memberi semangat kembali pada aktivitas berikutnya.

Buka Komunikasi yang Baik dengan Anak

Membuka komunikasi yang efektif dengan anak juga penting. Tanpa komunikasi yang baik, maka akan sulit melakukan poin-poin di atas. Orang tua perlu mengetahui apa isi hati anak dan terbuka dengan segala tantangan dan kendala yang mungkin dihadapi anak. Begitu pula sebaliknya. Orang tua perlu memberi pemahaman pada anak dengan bahasa yang mereka mengerti tentang apa maksud dari perintah atau harapan yang disampaikan pada anak.

Menerima Kenyataan dan Tetap Berprasangka Baik

Jika semua hal di atas telah dilakukan dan target belum kunjung tercapai, maka menerima ketetapan dan berubah adalah hal yang patut diusahakan. Belum berhasil bukan berarti gagal. Tetaplah berprasangka baik pada ketetapan ALLAH Sang Mahakuasa. Yakin bahwa semua hal akan hadir pada waktu terbaiknya. Memang tak mudah tapi bukan tak mungkin.

Semangat untuk kita semua! 🙂

14 thoughts on “Yang Harus Dilakukan Ketika Target Tak Kunjung Tercapai

  1. Semangat untuk ananda dan bundanya. Setuju jika belum berhasil itu bukan berarti gagal. Kita mesti tetap berprasangka baik pada ketetapan Allah SWT.
    Btw, terima kasih sharing tips jika target tak kunjung tercapai, reminder bagi saya juga ini

  2. Terlambat bukan berarti gagal sih, menurutku. Semangat buat Si Sulung dan Bundanya. Mungkin dalam hati si Sulung juga ada kekecewaan, yang penting jangan patah semangat.
    Allah SWT Sang Maha Mengetahui…

  3. semangaat mbaa….insyaallah mba sudah berusaha yang terbaik untuk anak, yuk sama-sama berjuang menjadi ibu yang diridhoi ALlah

  4. Jangankan anak-anak mba….orang tua juga harus ada waktu untuk rehat sejenak, untuk me recharge energi biar lebih fresh sehingga dapat mencapai target yang diinginkan. Semangat mba dan putranya

  5. Kak Shal uda berusaha sekali..
    Memang sedih ketika anak belum berhasil mencapai target. Tapi aku selalu tekankan ke anak-anak bahwa murojaah terbaik itu di waktu sholat. Jadi gapapa kalau belum nambah hapalan (ziyadah), yang terpenting mereka menikmati prosesnya.
    Kadang diburu-buru bikin anak merasa yang penting banyak, tapi belum hafizh dengan bacaan yang sesuai makhrojul hurufnya.

    Bismillah,
    setelah ini sama-sama berproses kembali.
    Hamasaaah…

  6. Alhamdulillah nemu artikel ini ketika merasa stuck dengan pencapaian, bismillah harus mulai “menyala” lagi nih hehehe.

  7. Menetapkan target pada anak itu baik, bisa memacunya untuk terus bergerak ke depan, enggak pasif gitu. Yang perlu kita perhatikan adalah pola komunikasi yang kita jalin dengan anak. Sebisa mungkin anak selalu nyaman saat bersama dengan kita.

  8. tetap semangat yaaa
    pada akhirnya kita hanya bisa berusaha lalu pasrah
    karena yang menentukan akhir bukanlah kita
    kita hanyalah menjalani kehidupan sebaik-baiknya
    tapi Tuhan tidak pernah mengkhianati hambanya

  9. wah aku sedang mengupayakan ini mbak. Masya Allah reminder banget lho ini. makasih ya mbak. Kuncinya tetap semangatttt ortunya jadi motor bagi anak. semangat semangat

  10. Sebagai new mom, berusaha banget buat disiplin sama diri sendiri biar anak jg ikutan, mulai dari hal kecil aja dulu kayak jam tidur dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *